CD Disertasi
Model Keberlanjutan Pengelolaan Industri Rumah Tangga Pada Pengrajin Gula Aren Di Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu
RINGKASAN
tangga sangat penting, karena menciptakan lapangan kerja, meningkatkan
ekonomi lokal, dan menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sumber
daya yang bijak dan limbah yang bertanggung jawab. Industri ini berperan sebagai
penggerak ekonomi masyarakat, memanfaatkan potensi lokal, dan mendorong
kesejahteraan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan. Industri gula
aren berskala rumah tangga di Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu,
merupakan produk unggulan daerah. Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu telah
mendukung pengembangannya melalui berbagai regulasi, seperti Penetapan
Kecamatan Rambah sebagai sentra IKM gula aren melalui Peraturan Daerah
Nomor 6 Tahun 2022 tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Rokan
Hulu Tahun 2022-2042. Dukungan ini sejalan dengan peraturan nasional seperti
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, serta Peraturan Menteri Perindustrian
Nomor 78/M-IND/PER/9/2007, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi
lokal menjadi produk khas yang berkelas global. Pengelolaan industri ini secara
berkelanjutan harus mencakup aspek ekonomi (peningkatan lapangan kerja,
pendapatan, dan ekonomi lokal), sosial (pemberdayaan masyarakat, budaya, dan
solidaritas), dan lingkungan (pemanfaatan sumber daya dan produksi ramah
lingkungan). Hal ini sejalan dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 dan
mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDG-1=
tanpa kemiskinan; SDG-5 = kesetaraan gender; SDG-8 = pekerjaan layak dan
pertumbuhan ekonomi; SDG-9 = industri, inovasi dan infrastruktur; SDG-12 =
konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab. Industri gula aren memang
sepenuhnya bersumber dari pohon aren (arrenga pinnata). Dari perspektif
ekologis, pohon aren berperan krusial dalam mitigasi bencana alam. Sistem
perakarannya yang kuat dan berfungsi efektif untuk mencegah erosi dan banjir,
khususnya di lahan miring. Pohon ini juga memberikan manfaat ekologis
tambahan, yaitu dapat dibudidayakan secara tumpang sari atau tumbuh
berdampingan dengan tanaman perkebunan lain seperti karet dan kopi. Kehadiran
pohon aren turut mendukung keanekaragaman hayati dengan menjadi habitat
bagi beragam flora (misalnya anggrek liar, pakis, dan lumut) dan fauna. Spesies
fauna yang sering ditemukan antara lain mamalia (musang, kelelawar, monyet),
serangga (lebah, ulat, cacing), amfibi dan reptil (katak, kadal), serta berbagai
jenis burung yang memanfaatkan pohon-pohon tersebut sebagai tempat
tinggal dan sumber pakan. Industri gula aren memberikan kontribusi ekonomi dan
vii
sosial yang substansial, terutama dalam pembukaan lapangan kerja dan
penyediaan sumber penghasilan bagi komunitas lokal. Aspek ekonomi mencakup
produksi gula aren, serta pemanfaatan batang dan daunnya. Secara sosial, industri
ini memperkuat ikatan kekerabatan, interaksi sosial, dan praktik gotong
royong selama proses panen di hutan. Industri ini juga mendorong ekspresi
budaya dan kearifan lokal, seperti munculnya syair, lagu, dan pantun. Inovasi
pengelolaan limbah juga terlihat, dengan pemanfaatan abu kayu bakar menjadi
pupuk dan abu gosok. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan kondisi
eksisting berdasarkan lima dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, sosial,
teknologi, dan hukum-kelembagaan), menganalisis indeks dan status
keberlanjutannya, mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberlanjutannya, dan
pada akhirnya merancang sebuah model pengelolaan industri tersebut agar lebih
berkelanjutan. Metode Penelitian : Menggunakan metode campuran (mixed
methods) pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data berupa studi
literatur, survei, kuesioner, dan wawancara kepada pengrajin, para ahli, pemangku
kepentingan, dan konsumen. Jumlah sampel para pengrajin menggunakan teknik
pengambilan sampel purposif. Pengujian data pada analisis kondisi eksisting
dengan statistik deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Analisis keberlanjutan
menggunakan multidimensional scaling (MDS), analisis faktor penentu dengan
prinsip Pareto, dan memodelkan temuan menggunakan kerangka konseptual.
Hasil dan Diskusi: Hasil temuan kondisi eksisting menggambarkan secara
ekologis belum terkelola secara optimal, karena masih mengandalkan pohon aren
yang tumbuh liar dan kurang mendapat perawatan, serta kepemilikan lahan
sebagian milik orang lain. Secara ekonomi penjualannya mampu mencapai luar
kabupaten hingga mendukung wisata religi islamic centre. Dimensi sosial
menunjukkan usia pengrajin masih berkategori produktif, pendidikan rendah, dan
peran partisipasi istri dan kearifan lokal ikut dalam proses produksi; dimensi
teknologi masih tradisional (menggunakan tungku) yang lebih efisien mengurangi
penggunaan kayu bakar, sehingga bermanfaat bagi ekologi hutan. Selanjutnya,
pada dimensi hukum-kelembagaan masih lemah akibat kurang tegasnya
pemerintah dan peran tokoh masyarakat yang belum optimal. Status keberlanjutan
pengelolaan industri rumah tangga pada pengrajin gula aren secara multidimensi
cukup berkelanjutan. Dimensi, ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi termasuk
dalam kategori cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi hukum-kelembagaan
berkategori kurang berkelanjutan. Faktor utama penentu keberlanjutan yaitu
pengetahuan teknologi pengolahan produk, keterkaitan produk dengan olahan
produk lainnya, potensi wisata kuliner, frekuensi pelatihan, kemampuan membeli
harga bahan baku, keuntungan usaha, jangkauan pemasaran, harga jual produk,
kemampuan ketersediaan modal usaha, sumber bahan baku, usia tanaman disadap,
dan tingkat pendapatan. Selanjutnya keberlanjutan industri tersebut dibutuhkan
suatu strategi yaitu; (1) strategi penguatan hukum/ kelembagaan industri rumah
tangga gula aren; (2) strategi pengelolaan perkebunan tanaman aren secara
intensifikasi dan ekstensifikasi; (3) strategi peningkatan
kompetensi technopreneur pada pengrajin gula aren dan generasi muda; dan (4)
strategi peningkatan ekonomi masyarakat berbasis pohon aren dan wisata kuliner
gula aren. Model yang ditemukan memberikan kerangka konseptual yang
viii
terorganisasi secara signifikan dapat meningkatkan keberlanjutan pengelolaan
pengelolaan industri rumah tangga pada pengrajin gula aren di kecamatan
tersebut. Kebaruan penelitian yaitu industri rumah tangga hijau. Industri rumah
tangga hijau merupakan model usaha di mana produksi barang dan jasa dilakukan
di lingkungan rumah dengan menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan. Ini
mencakup penggunaan bahan baku terbarukan, pengelolaan limbah yang efektif,
dan penghematan energi untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan
dan meningkatkan keberlanjutan, sehingga terjaga kelestarian sumber daya alam
dan kesejahteraan masyarakat. Kebaruan temuan ini terletak pada model kerangka
konseptual keberlanjutan pengelolaan industri rumah tangga. Penelitian ini juga
memperluas cakupan studi produksi gula aren menjadi pendekatan yang lebih
komprehensif melalui pembangunan berkelanjutan.
Daftar Kepustakaan : 159 buah (dari tahun 1997 sampai tahun 2025)
Tidak tersedia versi lain